Pahit Secangkir Kopi

*PAHIT SECANGKIR KOPI*
(Keanggunan Cinta di Usia Senja)

Mataram, sitirahmi.com. Saya bernyanyi ketika ribuan penduduk Mataram berebut berlari di jalanan menuju arah timur.

Itu saat Isya blm lagi tuntas di masjid-masjid. Laki perempuan, besar kecil, kakek nenek, berkendara maupun jalan kaki, semuanya tumpah di ruas jalan Majapahit dan jalan Langko. Entah timur mana tujuannya. Ada Tsunami katanya.

*Don’t be panic!_*
Itu pesannya jika ada bencana. Sebisanya saya belajar berhati wajar meski kemacetan hampir dua kilometer di jalan utama kota. Hati saya rapuh saat melihat dalam kerumunan itu seorang nenek tertatih menggapit tangan kekasih hatinya dan tangan lainnya memegang erat bantal guling. Tertatih ia menapak cinta, dan kupikir itu malam terakhirnya jika tsunami benar adanya.

Saya bernyanyi saja ketika ribuan penduduk Mataram berebut berlari di jalanan menuju arah timur.

Tak ada kulkas, TV, atau bawaan mewah lainnya. Pemilik mobil Pajero, Fortuner, Ranger tak merasa malam itu sebagai pemilik jalanan karena semua belajar merayap. Semua tiarap dengan harga nyawa yg sama. Saya pengendara motor malam itu minimal merasa satu harga.
Saya bernyanyi saja.

Saya bernyanyi sambil memikirkan keluarga di timur dan memikirkan 250 anak Panti-Asrama di barat. Sebagian anak-anak itu masih pingsan ketika kutinggalkan. Jangan percaya nyanyian bisa menawakkalkan saya. Saya percaya pada kedahsyatan doa.

Teringat, doa terbaik dalam lautan wajah panik yaitu doa dari sang Maha Guru:
اللهم انا نستحفظك و نستودعك ديننا
و انفسنا و اهلنا و اولادنا و اموالنا و كل شىء اعطيتنا
*Rabby Tuhan kami, sejatinya kami memohon perlindungan-Mu. Duhai Allah, kami menitipkan semuanya pada-Mu:
agama kami,
nyawa kami,
keluarga kami,
anak-anak kami,
harta kami,
dan semua karunia-Mu pada kami.

Kampung masih gulita saat tiba di rumah. Lalu kuhidupkan hati anak-anak jelang tengah malam bahwa inilah bagian yg harus dijalani.

Saat hampir terlelap di malam berikutnya dalam susulan gempa dg skala sekian Richter pukul 00:30 sekian, saya ingat pensiunan tentara tanpa teman hidup yg tak mau meninggalkan rumahnya saat gempa itu.
Ia berkata: “Kalau saya berlari dan tsunami terjadi, saya mungkin _jiun_ tanpa persiapan. Lebih baik saya rapikan tempat tidur, berwudlu’, shalat sunnah lalu membaca istigfar 100 kali. Setelah itu biarlah dalam posisi ber-sedekap lelap Allah mengambil nyawa saya”.
استغفر الله العظيم، لي ولوالدي ولمن له حق علي ولجميع المسلمين

Mencintai keluarga-kekasih di usia senja adalah ekspresi nikmat cinta-Nya.
Kembali kepada Sang Maha Cinta adalah ke-sejati-an nikmat-Nya, meski ekspresi tak tereja lagi di sana.

Allah tak pilih kasih di dunia.
*Allah tak pilih siapa yg dipilih-Nya*.
*Kematian hanyalah soal waktu*.
*Soal bagaimana, hanyalah bagian dari cerita-Nya*.

نسأل الله حسن الخاتمة، امين
#InspirasiSastra
#DekanFSastra_UNW_Mataram!
sitirahmi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *